My Blogs

Menggapai Ilmu Setinggi Langit...

Pada sebuah pagi, Nick Bilton melakukan eksperimen kecil: dia membuka iPad, lalu membeli majalah Wired versi digital. Dia setuju membeli seharga US$ 4.

Eksperimen berikutnya, dia segera menyambar kunci mobil dan berkendaraan sejauh 12 blok. Dia mendatangi toko majalah di Brooklyn dan membeli majalah Wired terbaru. Kali ini edisi cetak yang ia beli.

Bilton tak mencoba ngebut, melabrak lampu merah, atau parkir di tempat terlarang selama eksperimen kecil itu. Saat dia kembali ke rumah, dengan majalah di tangan, majalah digital versi iPad belum juga rampung diunduh. Padahal dia tinggal di Amerika Serikat, dengan koneksi Internet ADSL, yang jauh lebih kencang daripada Telkom Speedy-walau teknologinya sama.

Kita tak perlu gelar sarjana komputer untuk menarik kesimpulan dari dua eksperimen itu. Mana yang gagal? Mana yang lebih mudah dibaca? Butuh minimal 45 menit untuk mengunduh majalah versi digital, sementara majalah versi cetak kurang dari 10 menit sudah bisa didapat.

Di Indonesia, bila eksperimen itu dicoba, hasilnya juga akan sama. Majalah versi iPad akan kalah KO melawan versi cetak.

Ini memang pekerjaan berat penerbit majalah atau koran versi digital. Wired terbit di iPad dengan fitur-fitur indah yang memanjakan pembacanya. Ada video tiga dimensi yang sangat intuitif. Pembaca bisa memutar video itu 360 derajat, seperti seseorang sedang mengelilingi sebuah obyek. Juga ada artikel layar sentuh dengan hiasan suara dan gambar.


Akibatnya, majalah ini ukuran file-nya menjadi sangat besar: 250 megabita. Angka itu setara dengan sebuah video talk show televisi berdurasi 30 menit. Untuk mengunduhnya, butuh minimal 40 menit. Apalagi kalau mengunduhnya di Indonesia, bisa lebih lama lagi. Saya biasa mengunduh majalah-majalah versi iPad pada malam hari. Itu untuk menghindari putus tengah jalan. Maklum, koneksi ADSL ala Telkom Speedy enggak bisa dibilang mulus.

Saya pernah mengunduh aplikasi sebuah koran nasional. Dengan koneksi Telkom Speedy-yang notabene jauh lebih cepat dibanding koneksi 3G-tetap saja butuh lebih dari satu jam. Dengan waktu satu jam, orang sudah bisa mengambil kunci mobil, menyetir menuju mal, menyantap wagyu, membeli koran, dan kembali ke rumah.

Dengan model kayak begitu, apakah bisnis majalah atau koran di iPad bakal laku? Ini yang susah diprediksi.

“Penerbit ingin mereplikasi semua halaman di edisi cetak ke digital, termasuk iklannya,” kata Sarah Rotman Epps, analis dari Forrester Research, menyindir. “Mereka membuat produk baru dengan model bisnis yang kuno.” Penerbit harus berjuang membuat aplikasi yang lebih kecil file-nya.

Itu baru soal waktu pembelian (baca: waktu unduh). Belum soal minat membeli di atmosfer iPad. Saya melakukan survei kecil-kecilan terhadap teman-teman di kantor yang menggunakan iPad. Ternyata mereka jarang membeli majalah yang harus bayar, seperti Time, Fortune, Wired, dan National Geographic. Mengapa? Bukankah majalah itu punya aplikasi yang menarik untuk dinikmati di iPad, jauh lebih atraktif ketimbang versi cetaknya?

Jawabannya bermacam-macam. Ada yang bilang harganya mahal. Ada yang bilang mengapa harus beli kalau bisa baca gratis di situs webnya, atau ada edisi cetaknya di perpustakaan.

Kultur semacam itu tak hanya ada di negara miskin seperti Indonesia. Forrester, sebuah perusahaan riset asal Amerika Serikat, mencatat, 49 persen pemilik tablet memang aktif membaca koran dan majalah di tabletnya. Tapi mereka kurang suka membaca majalah yang harus diunduh terlebih dulu.

Forrester juga mencatat, 72 persen pengguna tablet lebih suka membaca berita lewat browser ketimbang aplikasi. Nah, penerbit atau pengembang aplikasi iPad yang sudah mengeluarkan duit ratusan juta rupiah siap-siap saja menyesal :-). Pasar majalah digital rupanya masih jauh dari matang.

(Sumber : tempo)

0 komentar:

Posting Komentar

Blog Archive

IP Address Anda

Pengikut

Komentar Anda


ShoutMix chat widget

About this blog

Download Film Gratisss...